Bukan Catatan Cinta

Posted: August 17, 2010 in Cerpen, Karya
Tags: , , , , , ,
Bukan Catatan Cinta, tapi Penghayatan Akan Keikhlasan

Wajah sejuknya muncul lagi, kali ini tepat ketika dia berniat membuka kembali laptopnya selepas sholat subuh. Inilah hal terberat yang dialami Kurenai Wataru (bukan nama samaran) sejak dia harus merantau meninggalkan pulau kelahirannya. Kesendirian, keterpurukan, kesepian, dan kegelisahan seringkali menyusuri hati mempertegas kerinduan yang membucah tak terkira pada Ibu, Kakak, Keluarga, sahabat, dan dia…Mio.
***************************
Salman Al-Farisi, seorang yang merantau ke berbagai penjuru demi mencari kebenaran sejati, jatuh cinta. Laki-laki yang sangat disayangi dan dihormati oleh Rasulullah ini terpikat dengan seorang muslimah Anshar. Tentu bukan memikat sebagaimana terpikatnya sebagian besar kisah cinta yang pernah aku saksikan, melainkan sebuah pilihan suci, dengan akal sehat dan perasahaan halus, dan jauh dari kesesatan.
Kegelisahan ini dengan gugup disampaikan pada Abu Darda’, seorang sahabat Anshor yang oleh Rasul dipersaudarakan dengannya.
***************************
Kisah Salman terlintas dibenak wataru. Selama ini yang ada dipikirkannya ketika mendengarkan nama Salman adalah seorang pahlawan perang khandaq dengan ide pembuatan parit briliannya, seorang engineer sejati, dan seorang yang catatan emas kehidupannya membuat namanya diabadikan sebagai nama sebuah masjid di suatu perguruan tinggi kecil. Namun kini yang terbayang oleh Wataru tentang salman adalah cinta. Mio-lah sumber munculnya kisah cinta salman dipikiran Wataru. Mio Muwaffaqah, seorang muslimah yang dikaguminya sejak lama, seorang wanita yang tidak bisa menghilang dari hatinya bahkan setelah lama tak berjumpapun, seorang wanita yang ia selalu doakan ke-istiqomahan dan kesucian hatinya. Wataru sadar ia tidak bisa berharap banyak terhadapnya, sebagaimana perasaan Salman ketika ia jatuh cinta kepada gadis yang ia sendiri tidak tahu perasaannya dan kepada siapa ia mencintai.
***************************
Saya adalah Abu Darda’ bersama saudara saya Salman Al Farisi, seorang Persia. Salman mempunyai kedudukan utama din sisi Rasulullah SAW, Salman telah dimuliakan Allah dengan Islam dan ia telah memuliakan Islam dengan amal dan jihad. Saya bermaksud mewakili Salman untuk melamar putri anda. Abu Darda’ memperkenalkan diri dan menyatakan niat kedatangan mereka dengan tegas.
Ayahanda sang gadis menjawab, “Sungguh kehormatan bagi kami menerima tamu sahabat utama Rasul dan mendapat tawaran bermenantukan seorang yang mulia namun saya tidak bisa menjawab, semuanya saya serahkan pada puteri saya”
Dari balik tirai, sang gadis bergetar, namun Salman tak kalah, hatinya berdebar. Sang ibu mewakili puterinya berbicara, “Maafkan keterusterangan ini, puteri saya menolak pinangan Salman, namun dengan mengharap Ridho Allah, apabila Abu Darda’ datang dengan perihal yang sama maka puteri saya akan mengiyakan”
Jgerrr! Keterkejutan besar, bagaimana mungkin sang puteri lebih tertarik dengan pengantar daripada pelamar. Terjadi pertempuran dalam diri Salman, cinta melawan persaudaraan. Namun itu tidak lama bagi orang semulia Salman. “Allahu Akbar!” seru Salman. Dengan segala keikhlasan Salman berkata, “Mahar dan semua persiapan untuk meminangmu aku berikan pada Abu Darda’ dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”. Subhanallah…
***************************
Wataru meneteskan air mata. Bagaimana mungkin dia akan selalu terperangkap dalam cinta. Timbul pertanyaan dalam benaknya, benarkah cinta tidak harus memiliki? Kisah cintanya dengan Mio memang tidak bisa disamakan dengan kisah Salman, bisa lebih baik, bisa jadi lebih buruk dan menyakitkan. Satu hal yang sekarang ada dibenaknya, “IKHLAS DAN KEIKHLASAN”. Wataru menyalakan laptopnya, tapi ternyata baterainya habis. Ketika ia mengambil charger di dalam tas, sepucuk kertas jatuh. Suatu tulisan tangan, bukan tulisan tangannya, tapi tulisan tangan Mio. Dia terduduk dan menangis lebih lama.
Apa yang sebenarnya terjadi? Tulisan apa itu? Bagaimana akhir kisah Watru dan Mio?

to be continued….

Comments
  1. jelly gamat says:

    memang mengharukan, dan benar juga kalow cinta tidaklah harus memiliki atau dmiliki tp dijaga dan dihayati supaya tidak tersakiti..;-D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s